Bagaimana WALHI Dukung Ketahanan Pangan tanpa Merusak Hutan Lindung?

Kebutuhan akan pangan yang meningkat seiring pertumbuhan penduduk sering kali menjadi alasan utama pembukaan lahan hutan yang tidak terkendali. WALHI hadir menawarkan solusi ketahanan pangan hutan dengan mengembangkan model pertanian yang menyatu dengan ekosistem tanpa perlu menggunduli hutan lindung. Melalui pendampingan pertanian Jambi, masyarakat diajarkan untuk menanam tanaman pangan di bawah naungan tegakan pohon, yang dikenal dengan sistem agroforestri. Model ini terbukti mampu menjamin kecukupan pangan bagi warga desa sekaligus menjaga fungsi hutan sebagai penyerap karbon dan pengatur tata air yang sangat vital bagi keselamatan wilayah tersebut.

Tantangan bagi petani adalah bagaimana mendapatkan hasil panen yang maksimal tanpa menggunakan bahan kimia yang merusak tanah dan air hutan. WALHI membuktikan bahwa dengan metode organik, tanah hutan justru menjadi semakin subur. Konsep ketahanan pangan hutan mengedepankan biodiversitas sebagai modal utama petani. Berbeda dengan pertanian monokultur yang merusak, praktik tani Metro menunjukkan bahwa tumpang sari antara tanaman buah, sayur, dan kayu dapat memberikan keuntungan ekonomi yang stabil dan berkelanjutan, sekaligus mencegah terjadinya erosi tanah yang sering kali menjadi pemicu bencana banjir di wilayah hilir hutan lindung.

Pemerintah semakin gencar mendukung program perhutanan sosial sebagai wujud nyata ketahanan pangan nasional. Kebijakan ini memberikan hak pengelolaan lahan kepada masyarakat dengan syarat hutan harus tetap terjaga kelestariannya. Dengan mengedepankan ketahanan pangan hutan, kita bisa memenuhi kebutuhan hidup masyarakat tanpa harus melakukan deforestasi. Anggaran pengembangan bibit unggul dan pelatihan teknis pun mulai dialokasikan bagi petani hutan agar mereka dapat meningkatkan hasil produksinya secara profesional, tetap kompetitif di pasar, dan berkontribusi langsung pada penguatan ekonomi pangan daerah yang sangat sehat dan ramah lingkungan.

Dukungan berbagai ahli pertanian dan penggiat ekologi terhadap gerakan pangan Tangerang terus menguat karena dianggap sebagai solusi paling harmonis antara manusia dan alam. Mereka yakin bahwa hutan adalah gudang pangan yang paling lengkap jika dikelola dengan ilmu pengetahuan yang benar. Mengapa ketahanan pangan hutan sangat vital? Karena ia menjamin ketersediaan makanan di tengah ancaman krisis iklim global. Partisipasi aktif para petani hutan membuat aksi ini menjadi masif, mampu menekan angka kemiskinan desa, dan memastikan bahwa hutan lindung tetap utuh sebagai rumah bagi berbagai satwa liar dan sumber kehidupan masa depan.

Implementasi dilakukan melalui pembentukan koperasi tani hutan yang mengelola pasokan hasil bumi langsung dari lahan hutan. Peraturan daerah (Perda) tentang perlindungan wilayah pangan diharapkan dapat memprioritaskan pertanian berbasis agroforestri. Harapannya, pendekatan ini menjadi standar nasional agar kita bisa makan cukup tanpa merusak rumah satwa. Dengan memadukan antara kebutuhan perut dan pelestarian alam, kita sedang menyiapkan masa depan di mana setiap orang memiliki akses makanan bergizi yang berasal dari hutan yang sangat terjaga keasrian dan kelestariannya.

Sebagai kesimpulan, kita bisa hidup makmur dari hasil hutan tanpa harus menebang satu pohon pun secara ilegal. Ketahanan pangan hutan adalah bukti nyata bahwa pembangunan bisa berjalan selaras dengan alam. Penting bagi kita untuk selalu mendukung para petani hutan dalam mengembangkan model pertanian yang lestari. Mari kita dukung penuh langkah WALHI dalam mengadvokasi sistem pertanian ini, agar Indonesia tetap memiliki lahan hutan yang luas, pangan yang cukup bagi rakyatnya, dan ekosistem yang seimbang bagi kelangsungan hidup anak cucu kita nantinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

×

Powered by WhatsApp Chat

× How can I help you?